BAN-BAP Propinsi Yogyakarta Akreditasi on-line

Mulai tahun 2012 BAN-BAP Yogyakarta sudah melaksanakan proses akreditasi secara online. Akreditasi dengan memanfaatkan teknologi dapat mempercepat proses data, akurasi terjamin dan penyimpanan data semakin mudah.

Pelaksanaan secara online dapat dilakukan oleh sekolah atau madrasah jenjang SMA, SMK dan MA serta sederajat. Ini dipilih dangan pertimbangan sekolah sudah memiliki infrastrukturnya. Seperti laborat komputer, operator internet dan jaringan internet.

Akreditasi Online bertujuan :
a. Mempercepat proses pelaksanaan akreditasi dengan menggunakan ICT
b. Meningkatkan efisiensi pelaksanaan akreditasi
c. Mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi informasi yang diterapkan dalam proses akreditasi
d. Mempercepat proses komunikasi antara BAP-S/M dan sekolah/madrasah dalam proses akreditasi secara akurat dan profesional
e. Memanfaatkan SIA-S/M yang telah dikembangkan oleh BAN-S/M

Akreditasi Online diharap bermanfaat:
a. Meningkatkan kredibilitas dan profesionalitas BAN-S/M dalam pelaksanaan akreditasi
b. Untuk mewujudkan badan akreditasi yang independen, maju, dan modern
c. Meningkatkan kemampuan sekolah/ madrasah dalam menggunakan ICT dalam proses akreditasi secara cepat, tepat dan akurat
d. Membawa perubahan di kalangan guru, siswa, dan orang tua dalam penggunaan ICT di sekolah/madrasah

PowerTools Lite 2011 Untuk Optima Komputer

PowerTools Lite adalah versi freeware Macecraft profesional, Perangkat Lunak paket kelas jv16 utilitas PowerTools, untuk membantu semua pengguna PC Windows dengan mudah

Namun efektif untuk memperbaiki kesalahan sistem dan menghapus data yang tidak perlu. PowerTools Lite adalah utilitas yang dirancang untuk menjadi solusi dalam membersihan PC dan memperbaiki kesalahan yang terjadi. Program ini akan mengoptimalkan sistem anda dan akan meningkatkan kinerja komputer anda.

PowerTools Lite memungkinkan pemilik PC untuk mendapatkan keuntungan dari sistem yang aman dan registri yang bersih. PowerTools Lite juga membersihkan data yang tidak perlu dari registri anda, MRU dan data sejarah dari semua aplikasi utama dan Windows itu sendiri, menghapus file sementara yang tidak perlu untuk membersihkan seluruh PC.

Software ini freeware sehingga gratis saat di gunakan, rumah dan komersial sama-sama dapat manfaat dari PowerTools Lite tanpa harus membayar untuk aplikasi ini, memungkinkan penghematan dalam memperbaiki registri yang sebanding dengan biaya menggunakan dukungan profesional TI.

Download di sini :
null

Software Percepat Copy (TeraCopy v2.2 + Serial Key)

TeraCopy adalah sebuah program yang dirancang kompak untuk menyalin dan memindahkan file pada kecepatan maksimum. Dengan TeraCopy v2.2 Final ini kita dapat merasakan sangat jauhnya perbedaan proses copy dan move dibandingkan dengan manual, teracopy memberikan kita banyak fitur
diantaranya :

Copy files faster : TeraCopy menggunakan buffer yang disesuaikan secara dinamis untuk mengurangi pencarian berulang. Asynchronous copy mempercepat transfer file antara dua hard drive fisik.
Pause and resume file transfers. Jeda proses salinan setiap saat untuk membebaskan sumber daya sistem dan lanjutkan dengan satu klik.
Error recovery. Dalam kasus copy error, TeraCopy akan mencoba beberapa kali dandalam kasus lebih buruk hanya melewatkan file, tidak mengakhiri seluruh transfer.
Interactive file list. TeraCopy menunjukkan file gagal transfer dan memungkinkanAnda memperbaiki masalah dan hanya masalah recopy file.
Shell integration. TeraCopy dapat sepenuhnya menggantikan fungsi Explorer menyalin dan bergerak, yang memungkinkan Anda bekerja dengan file seperti biasa.

Full Unicode support.

Download di sini :
null

Pentingnya “Rancangan” Materi Pelajaran

by Yusdi Maksum on Wednesday, 15 July 2009 at 16:13
Ada pepatah mengatakan, “Guru itu semalam lebih tahu dari pada murid-muridnya.”
Seorang guru yang baru biasanya “wayangan” untuk mempelajari materi yang akan
diajarkan keesokan harinya. Sukses tidaknya pelajaran di kelas, ditentukan oleh persiapan yang dilakukan oleh sang guru. “No plan is no brain” tanpa rencana sama berarti tak ada otak, demikian kata pakar manajemen. Rancangan mata pelajaran atau disebut juga satuan pelajaran atau “lesson plan” sudah seharusnya menjadi persiapan mengajar di setiap hari bagi guru-guru baru atau mahasiswa-mahasiswa yang akan melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Karena persiapan adalah sangat krusial, persiapan pengajaran memegang peran lebih dari enam puluh persen dari suksesnya pelajaran. No preparation, no teaching. Apa yang akan diajarkan jika rancangan dan persiapan tidak ada sama sekali?

Pengajaran Efektif,
Pengajaran efektif mutlak didasari perencanaan yang cermat. Setiap satuan pelajaran atau seluruh mata pelajaran harus diartikulaiskan tujuan pelajaran atau lesson outcome dengan mencakup hal sebagai berikut:
• Outcome (hasil) yang diinginkan.
• Apa yang akan dipelajari oleh anak didik? (konsep, ketrampilan, fakta ataukah nilai-nilai?)
• Teknik yang akan digunakan atau strategi yang akan diangkat dalam menyajikan materi
• Bagaimana menentukan pengujian atau assessment atas apa yang diajarkan kepada anak didik dan evaluasi bagi sang guru apakah rancangan itu sesuai dengan apa yang diharapkan. Meskipun demikian, dokumen rancangan pelajaran harus fleksibel. Para mahasiswa PPL dan guru-guru baru harus mampu menguasai bagaimana menambah dan menerapkan perubahan-perubahan selama menyajikan pelajaran. Karena tidak segalanya akan berjalan sesuai rencana.


Lesson Outcome (Tujuan di setiap episode pengajaran)

Tujuan pengajaran yang tercakup dalam lesson plan (satuan rancangan pelajaran)
meliputi:
• Identifikasi pentingnya …(sesuatu)
• Diskusi tentang …
• Pengertian tentang …
Spesifikasi tujuan-tujuan diatas harus diukur dengan tujuan dari kurikulum yang ada
dengan cara merumuskan satu atau dua outcome yang memfokuskan dalam satuan pelajaran dengan mempertimbangkan isi materi pelajaran, pengaruh dan proses kognisinya. Prior knowledge atau disebut juga pengetahuan dasar anak didik.perlu dipertimbangkan dalam menyusun rancangan pelajaran demi kesuksesan penyajian materi pelajaran yang bersangkutan. Hal-hal yang diperhitungkan dalam pengetahuan dasar anak didik meliputi pengetahuan, ketrampilan atau keahlian, pengalaman dan penanaman nilai yang telah
menyerap pada mereka sebelum melangkah pada phase pengajaran berikutnya.
Persiapan materi yang mendukung harus diperhitungkan sebelum pengajaran dimulai seperti Overhead Projector, laboratorium, dan semua instansi-instansi yang terlibat. Ini juga termasuk uji coba sumber pembelajaran dan test waktu apakah tugas yang akan diberikan akan mampu diselesaikan dalam kurun waktu yang tersedia.

Pembagian Alokasi Waktu
Dalam mempertimbangkan alokasi waktu pelajaran, seorang guru harus berpegangan pada realistic plan. Pertimbangkan short attention span atau daya tahan anak didik untuk mampu menyerap pelajaran yang diberikan. Seberapa menariknya proses pembelajaran, tapi diberikan lebih dari satu jam lamanya kepada anak-anak di Sekolah Dasar, maka akan berakibat disaster, atau paling tidak, menjadi membosankan. Begitu juga dengan anak-anak didik di SLTP and SLTA, jika pengajaran terlalu singkat, maka mereka cenderung gaduh, tidak mempedulikan guru karena sedikitnya tugas yang harus mereka lakukan.

Pembagian alokasi waktu dapat dikategorikan menjadi introduksi atau stimulasi,
pengembangan, konsolidasi dan kulminasi atau, puncak atau penutup. Phase stimulasi berisi perncananan tentang strategi memotivasi untuk menangkap perhatian anak-anak didik. Dalam hal ini bisa termasuk penggunaan alat-alat atau instrument untuk merangsang keingintahuan mereka. Selain itu, dua hal utama dalam phase ini disinggung yaitu penjelasan tentang apa yang akan disinggung dan dilpelajari dalam episode pelajaran tersebut dan kesinambungan tujuan pelajaran yang telah lalu.

Phase pengembangan adalah mengenalkan aktivitas pelajaran dengan jelas dan masuk akal. (clear and logical manner). Sang guru mesti mempertimbangkan sequence atau urutan-urutan aktifitas dalam pengembangan tugas-tugas pembelajaran. Pemahaman anak-anak didik harus dimonitor secara cermat dengan melibatkan investigasi atau meneliti sesuatu, mendengarkan penjelasan sang guru dan mencatat informasi tersebut ke dalam dokumentasi mereka.
Dalam phase pengembagan ini perlu dipertimbangkan:
• Pengorganisasian kelas (pembagian tugas, siapa yang akan bertanggung jawab atas
pengambilan buku dan pengembalikannya ke perpustakaan, pengambilan OHP ke kantor dan mengembalikan ke kantor, kapur atau spidol kalau habis, dan lain sebagainya.
• Pertanyaan-pertanyaan kunci atau diskusi poin yang harus ditekankan agar anak didik memahami tentang materi pelajaran.
• Keterangan-keterangan yang jelas tentang aktivitas yang harus dipenuhi.
• Yang paling penting adalah focus atas ‘apa’ yang anak didik lakukan, bukan apa-apa
yang guru lakukan di dalam kelas.

Phase konsolidasi biasanya berisikan pemberian kesempatan kepada anak-anak didik untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang harus dikuasai melalui pengajaran yang baru saja dijelaskan. Mereka dituntut mampu mendemonstrasikan problem solving (penyelesaian masalah), penyajian atau presentasi dan mengajukan pendapatnya. Guru harus mampu memotivasi anak didiknya untuk menggali potensi dan pemahaman anak didik tentang materi pelajaran, tidak hanya menunggu anak didik bertanya tetapi merangsang and memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersangkutan dengan materi.
Phase kulminasi atau disebut juga penutup adalah summary atau men yimpulkan dari
aktivitas pelajaran yang baru berlangsung. Guru mengulang dan menggarisbawahi apa apa yang terpenting dari materi yang dilewati atau menanyakan bagaimana perasaan anak-anak didik setelah melengkapi tugas-tugas yang diberikan selama pelajaran (sense of completion). Dalam tahapan ini banyak para guru senior memberikan pekerjaan rumah atau digunakan untuk bersih-bersih kelas, pengembalikan peralakan ke perpustakaan, laboratorium, kantor dan lain sebagainya.

Assessment dan Evaluasi
Perencanaan dalam pengajaran harus mencakus aspek assessment dan evaluasi. Dua hal ini seringkali terlupakan dalam merencanakan rancangan satuan pelajaran. Assessment adalah satu bagian integral dari proses belajar mengajar, yang dapat memberikan akses secara langsung kepada guru apakah pola pikir anak didik telah mampu menyerap dan mengikuti keterangan-keterangan yang baru saja disampaikan. Bagi para mahasiswa PPL seharusnya proses assessment ini berlangsung selama pengajaran berlangsung dengan cara observasi pada aktivitas siswa, mengoreksi hasil-hasil kerja anak didik, menangkap jawaban-jawaban yang disampaikan mereka atas pertan yaan-pertanyaan yang diberikan melalui diskusi di kelas.

Sedangkan evaluasi digunakan sebagai alat pengukur pada kesuksesan pengajaran yang berlangsung. Para mahasiswa PPL dan guru-guru baru sebaiknya mengukur kelemahan dan keunggulan dari strategi yang diterapkan. Kemudian mencatat adakah area of concern (aspek-aspek yang perlu dikhawatirkan) serta keinginan yang ingin dikembangkan pada pelajaran berikutnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang harus dipertimbangkan dalam mengevaluasi proses
pengajaran antara lain:
• Bagaimana mengantisipasi pelajaran untuk meraih outcome pelajaran?
• Apakah ada perubahan-perubahan yang terobservasi dari pengetahuan, ketrampilan dan
tingkah laku anak didik dalam pengajaran? Seperti apa perubahan itu?
• Bagaimana materi pelajaran mengakomodasi perbedaan-perbedaan kemampuan
diantara siswa?
• Aspek apakah dalam materi pelajaran yang dapat ditingkatkan?

Sedangkan pertanyaan-pertanyaan untuk evaluasi bagi sang pengajar meliputi:
• Apakah persiapan pelajaran (lesson plan) sudah efektif?
• Apakah rencana pelajaran sudah cukup detail? Mengapa?
• Apakah strategi dapat ditingkatkan untuk pelajaran berikutnya?
• Apakah class management (pengelolaan / pengaturan kelas) sudah efektif dan efisien?
Mengapa?

Untuk mengevaluasi struktur pelajaran pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut harus
diajukan:
• Apakah prior learning (pengetahuan siswa materi sebelum materi pelajaran) telah
diantisipasi?

• Apakah tahap introduksi atau stimulasi cukup memotivasi siswa? Bagaimana tanggapan mereka pada saat itu?
• Apakah pelajaran mengalir secara teratur? (siswa-siswa tidak bosan, gaduh ataupun tidak mematuhi aturan?)
• Apakah siswa diberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan apa-apa yang
dipelajarinya?
• Apakah materi pendukung dan peralatan-peralatan Bantu cukup efektif dalam
pelajaran?
• Apakah assessment yang lebih efektif perlu diterapkan untuk materi pelajaran?
• Apakah ada hal-hal yang terjadi tanpa diantisipasi dalam rancangan pelajaran?
• Apakah phase kulminasi atau penutup cukup efektif untuk meringkas materi pelajaran
yang bisa saja diajarkan?

Kesimpulan

Jika persiapan yang dirancang oleh calon guru dan para guru mencakup hal-hal yang
tercantum diatas, seperti hanya lesson outcome (tujuan pengajaran), indikasi, pembagian alokasi waktu, aktivitas yang detail dan kulminasi, niscaya pelajaran akan berjalan lebih lancar dan terarah. Meski kita tidak pernah bisa meramalkan apa saja yang terjadi di hadapan kita, paling tidak kita harus mempersiapkan dari sebagai pendidik dan pengajar.
Dari hal-hal yang kecil inilah mata pelajaran tergantung pada tangan-tangan kita. Sang guru memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak bangsa, tunas harapan masa depan di pundaknya.

Newcastle, 22 Juni 2009
*) Yusdi Maksum (yusdi.maksum@yahoo.com.au) The author currently studies Postgraduate Diploma in Education at The University of Newcastle Australia, graduated from University of Yogyakarta State.

Jaringan Kurikulum Ter(Di)abaikan

Terdapat aktifitas-aktifitas kerja sama antarsekolah, sekolah dengan perguruan tinggi, sekolah dengan LPMP atau sekolah dengan instansi lainnya, namun secara formal di hampir seluruh kabupaten/kota propinsi jawa Timur belum terbentuk Tim Jaringan Kurikulum. Secara embrio terdapat pola-pola Tim Jaringan Kurikulum, tapi tidak terkoordinasi dan tidak memiliki sistem terukur.
Tim Jaringan Kurikulum yang kini memasuki usia ke 19 tahun dilahirkan tahun 1991 ternyata masih banyak mengalami kendali dalam pembentukkannya. Tim Jaringan Kurikulum yang dirancang sebagai back-up system Puskur (Pusat Kurikulum) dalam menghadapi implementasi kurikulum sekolah yang pada waktu itu pengembangannya didasarkan pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Menurut Sukmadinata (2001:4) kurikulum merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.
Sementara itu menurut Suhadi (2006) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang notabene merupakan salah satu pembaharuan kurikulum, disikapi secara kurang bijaksana oleh sebagian pelaku pendidikan. Diantaranya, masih banyak dijumpai adanya anggapan KTSP adalah kurikulum baru yang berbeda dengan kurikulum sebelumnya, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Sebagai konsekuensinya implementasi kurikulum yang berlaku sebelumnya harus pula dibenahi atau dirombak. Anggapan inilah yang menimbulkan sikap apriori dan penolakan secara psikologis terhadap perubahan.
Pembentukan Tim Jaringan Kurikulum di setiap daerah merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih untuk mengatasi keberagaman kemampuan dan meningkatkan akselerasi penyusunan kurikulum di daerah. Adanya Tim Jaringan Kurikulum di setiap daerah diharapkan mampu membantu Pusat Kurikulum dan khususnya pihak dinas pendidikan setempat serta sekolah/madrasah dalam rangka pengembangan kurikulum (baca: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KTSP).
Secara umum keberadaan jaringan kurikulum kabupaten/kota di hampir seluruh propinsi Jawa Timur sebagai berikut. Pertama memang sekolah melakukan kegiatan-kegiatan antara lain: pertukaran informasi dengan sekolah-sekolah sejenis, kantor dinas pendidikan nasional, dan perguruan tinggi. Terdapat juga pertukaran narasumber dengan beberapa sekolah, terutama program-program ekstrakurikuler. Program pendampingan minim dilakukan oleh institusi lain, terutama dinas pendidikan dan perguruan tinggi (PT), walaupun ada kerja sama antarsekolah atau institusi lain diluar dinas pendidikan dan PT. Secara embrio terdapat pola-pola jaringan kurikulum, tapi tidak terkoordinasi. Tim Jaringan Kurikulum tidak pernah dibentuk di hampir seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.
Kedua, pelaksanaan jaringan kurikulum meliputi tugas-tugas yang dijalankan oleh beberapa institusi di bawah struktur walikota. Sesuai aturan seharusnya Bappeda kabupaten/kota bertugas memfasilitasi kegiatan Tim Jaringan Kurikulum dan memasukkannya sebagai bagian dari perencanaan pembangunan pendidikan di daerah. Tapi hal ini belum dilakukan oleh Bappeda di hampir semua wilayah Jawa Timur. Dinas Pendidikan Kabupaten/kota memang memerankan diri sebagai pembina, memberikan pengarahan, tetapi tidak pernah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tentang pembentukan Tim Jaringan Kurikulum. Selain itu tidak ada dukungan dana, dukungan sarana dan prasarana untuk pembentukan jaringan kurikulum.
Ketiga, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) yang seharusnya optimal dalam intensitas sebagai lembaga yang memberikan pendampingan dalam pengembangan kurikulum yang sinergis, ternyata tidak banyak memberikan pengaruh terhadap pembentukan Tim Jaringan Kurikulum.
Keempat, forum seperti MKKS/M, MGMP, dan KKG memang relatih cukup baik menjadi saluran komunikasi antarsekolah. Biasanya persoalan-persoalan seputar persekolahan menjadi pembicaraan hangat pada forum-forum tersebut. Tapi memang daya dorong forum-forum tersebut relatif lemah, terutama berkaitan dengan persoalan yang berhubungan dengan kebijakan. Semestinya memang pada level-level kebijakan tersebut pemerintah kota mengambil alih persoalan. Tapi tentu saja banyak persoalan yang menjadikan jaringan kurikulum ini belum banyak terdengar keberadaannya.
Walaupun sebenarnya aktifitas banyak dilakukan, tetapi bukan dalam konteks kerja-kerja jaringan, melainkan kerja masing-masing sekolah. Kegiatan lokakarya, seminar, pelatihan, penataran, studi banding, dan penelitian, dan pengembangan dalam beberapa bagian melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga-lembaga lain yang terkait tapi dalam konteks pertukaran ide, pengalaman, dan informasi antarsekolah atau antarinstitusi pendidikan lainnya. Sementara itu kegiatan berupa: pendampingan pengembangan KTSP, layanan teknis, layanan konsultasi, pemantauan kurikulum, evaluasi kurikulum, dan penyempurnaan kurikulum belum pernah ada dalam kerangka kerja sama antarsekolah atau antarinstitusi pendidikan lainnya.
Apa yang dapat dilakukan menghadapai persoalan jaringan kurikulum di Jawa Timur tersebut. Penguatan peran institusi Bapedda, PPPG, perguruan tinggi, MKKS/M, MGMP, KKG, dan organisasi profesi dalam menampung informasi dari sekolah. Pengembangan peran komite sekolah dalam kedudukannya sebagai mitra sekolah dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan, mengidentifikasi kebutuhan lokal, mengidentifikasi keunggulan lokal, mengakomodasi kebutuhan untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan mengakomodasi keunggulan lokal untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Selain itu perlu juga pembentukan Tim Jaringan KTSP dilanjutkan dengan pembuatan program kerja, yang sebenarnya aktifitasnya sudah dilakukan. Pembentukan Tim Jaringan KTSP akan memperkuat kerja-kerja jaringan.

Berikut Program burung bernyanyi untuk mendengarkan musik. Klik Burung Bernyanyi

SBI Tidak Komersial

Sekolah berikut sekedar contoh, bahwa internasionalisasi bisa dilakukan secara substantif bukan sekedar euforia SBI. Bahwa internasionalisasi dapat dilakukan tanpa mengabaikan akses masyarakat semua lapisan.
Melalui perjalanannya yang panjang, Sekolah Dasar Laboratoium Universitas Negeri sejak tahun 2001 dibawah kepemimpinan Drs Suprihadi Saputro S.Pd, M.Pd, mengembangkan sistem manajemen sekolah yang berbasis kompetensi dan sistem pembelajarannya dengan pendekatan mastery learning dan continous progress.
Pembelajaran individual melalui modul dan inedependent study. yang diberlakukan saat ini, Sekolah Dasar laboratorium telah berhasil meningkatkan efisiensi pendidikannya. Model akselerasi alamiah yang dikembangkan memberi peluang bagi siswa yang kecepatan belajarnya tinggi
untuk menyelesaikan pendidikan SD-nya hanya dengan waktu 5 tahun. Pendekatan Individual yang dijalankan telah mengubah paradigma anak tentang hahekat belajar.
Tahun 2005 sekolah ini mengembangkankan diri menjadi sekolah nasional berstandar international (bukan SBI-nya pemerintah lho-lihat tahunnya-pemerintah baru mengeluarkan aturannya saja tahun 2006). Untuk itu, menjalin kerjasama dengan Cambridge University International Examination (CIE) Tanggal 22 April 2007, bersamaan dengan peringatan Hari Bumi se-Dunia, SD Laboratorium dikembangkan dan di resmikan oleh Rektor UM Prof Dr. H. Suparno menjadi Pendidikan Dasar Sembilan Tahun di bawah pengelolaan satu atap One School One Director Pada Juni 2007 SD Laboratorium terakreditasi sebagai satu-satunya Centre of Primary Program University of Cambridge International Examination di Indonesia
Karakteristik program pendidikan di SD Lab: Self-Directed Learning : belajar atas arahan dirinya sendiri. Career- Education : siswa mampu memilih cita-cita untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang sesuai dengan sikap dan minatnya. Personality Development : berkembangnya kepribadian anak yang memungkinkan anak dapat bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, memahami orang lain, dll. Cognitif Development : mengarahkan anak untuk menguasai kompetensi KOGNITIF, BERFIKIR DIVERGEN DAN BERFIKIR TINGKAT TINGGI. Continous Learning : menumbuhkan kesadaran dan membekali kemampuan anak untuk belajar secara berkelanjutan ( life long learning). Knowledge to improve Society : isi pembelajaran dihubungkan dengan pengetahuan dan perubahan sosial, sehingga membimbing anak untuk mampu berpartisipasi dalam perkembangan masyarakat masa depan.Development of Value: pembelajaran yang lebih menekankan pada pengembangan sistem nilai yang berguna dalam kehidupan ANAK DI masyarakat. Preparation for Change :mengembangkan keterampilan, sikap, dan kebiasaan dan aneka pengetahuan dan pemahaman yang berguna bagi anak untuk menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan masyarakat.Cultural Pluralism : menyiapkan anak untuk kehidupan masyarakat global yang majemuk.

RA. KARTINI DAN KERESAHAN BERAGAMA

Kekaguman terhadap sebuah agama pada manusia setiap saat akan naik turun. Pada titik tertentu ada rasa “muak” karena ajaran Kitab Sucinya berbahasa asing sehingga menyulitkan bagi orang yang tidak tahu bacaan maupun artinya. Kalaupun tahu cara membacanya tetapi tidak tahu maksud dan maknanya. Kondisi tersebut terjadi saat ini, betapa banyak orang yang belum bisa baca al Qur’an dengan huruf arabnya, begitupula semakin banyak oran yang bisa membaca al Qur’an sebatas “membaca” tetapi tidak paham akan maksud dan maknanya. Belum lagi ini diperparah dengan begitu banyaknya orang yang belajar “Islam” hanya sebatas belajar membaca al Qur’an saja. Belajar agama cukup dengan lulus Iqra’ jilid 1 – 6 dari Taman Pendidikan al Qur’an. Ketika hanya menamatkan TPA yang didapat seseorang hanyalah cara membaca al Qur’an secara mendasar, tetapi belum sampai pada mengetahui kandungan dan maksud al Qur’an. Pada puncaknya banyak umat Islam keluar dari ajaran al Qur’an dan Sunnah karena ketidatahuannya atas “content” dan “spirit” ajarannya. Bila ini yang terjadi maka yang berkembang dalam diri umat Islam adalah memahami nilai-nilai islam berfokus pada nilai Mitos dan Ideologis, bukan nilai Islam sebagai Ilmu yang bisa dipraktekkan sehari-hari. Keprihatinan ini sebenarnya sudah berlangsung lama dirasakan oleh umat Islam sendiri dan terungkap diantaranya pernyataan RA Kartini. Dia menyatakan, “Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Disini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur’an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yang dibacanya.” [surat kepada Stella, 6 Nov 1899].
Pernyataan yang perlu digaris bawahi sebenarnya pada kalimat akhir bahwa: Disini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur’an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yang dibacanya.”
Keresahan ini berlanjut dengan pernyataan dalam surat kepada orang Belanda juga: “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan
mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]
Keresahan ini mengukuhkan bahwa ketidaktahuan akan arti al Qur’an dan Sunnah yang notabene berbahasa Arab bisa membawa seseorang semakin malas untuk membaca dan mengkaji al Qur’an dan Sunnah. Pernyataannya sangat keras yang perlu digarisbawahi adalah: Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya.
Keresahan ini patut disyukuri karena RA Kartini tidak hanya menyampaiakan kepada orang Belanda saja tetapi disampaikan kepada seorang Kyai yaitu Kyai Sholeh Darat yang saat itu memberikan pengajian yang ”membumi” di kalangan ningrat di Kabupaten Demak. Setelah pengajian RA Kartini mengajak dialog dengan Kyai Sholeh Darat. Berikut kutipannya:

“Romo guru yang mulia,” Kartini membuka maksud, “selama hidup saya, barulah kali ini ananda sempat mengerti makna surat al-Fatihah, induk al-Qur’an itu. begitu besar rasa syukur ananda kepada Allah SWT. namun sayang romo guru, ananda heran dan tak habis pikir, mengapa selama ini ulama kita belum menerjemahkan al-Qur’an dalam bahasa jawa? bukankah al-Qur’an merupakan petunjuk bagi segenap umat manusia?”

Kartini menarik napas dalam-dalam. suasana sunyi. Kiai Soleh Darat mendengar pertanyaan gadis pemberani itu.

“Teruskan anakku!”, pancing Kiai Soleh Darat
“Jadi hemat saya, orang-orang jawa seperti saya perlu mengerti dan memahami isi kitab suci itu, terutama melalui jalan yang romo guru bentangkan tadi. apalagi ramanda saya (Bupati Jepara) ikut bersyukur atas minat ananda mendalami al-Qur’an”

“Baiklah, apakah ada pertanyaan lagi wahai anakku?” Kiai Soleh Darat masih menangkap gurat kegelisahan pada wajah kartini.

“begini romo guru, khusus tentang penerjemahan dan penafsiran al-Qur’an dalam bahasa jawa itu, apakah ada syarat-syarat bagi orang yang dianggap cukup sebagai ahli di bidang tersebut?”

“sungguh anakku Kartini, tidak sedikit bilangannya. syaratnya sungguh berat. antara lain, orang harus menguasai bahsa arab, yang khas dengan bahsa al-Qur’an lengkap dengan nahwu, sorof, badi’, ma’ani, bayan, balaghah, istiarah, lengkap dengan keilmuan lainnya,” terang Kiai Soleh Darat sambil tersenyum.

“tapi, bukankah romo guru sudah ahli dan menguasai ilmu-ilmu itu? maka sekarang ananda mohon sudi kiranya romo guru berkenan segera menulis untuk bangsa kita pada umumnya. nerupa kitab terjemahan dan tafsir al-Qur’an dalam bahasa jawa. sebab hal itu akan menjadikan mereka memahami bisikan kudus dari kitab tuntunan hidup mereka. dan, romo guru akan besar sekali jasanya.”

Mendengar permintaan Kartini, raut wajah kiai tua itu berseri. seketika itu pula air mata Kiai Sholeh tumpah, menangis haru mendengar pinta perawan aristokrat itu.
Keresahan ini memberikan inspirasi bagi Kyai Sholeh Darat untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa secara tertulis. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim.
Keresahan RA Kartini ini memberikan inspirasi bahwa masih banyak lahan kosong yang belum tergarap oleh Da’wah Islam (baik dilihat dari content, maupun ceruk pasar Da’wah). Selama ini umat Islam masih asyik pada ceruk pasar yang sudah ada sehingga justru yang muncul adalah perebutan lahan da’wah. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber.

Matra SBI

Belakangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) menjadi semacam mantra baru untuk perbaikan mutu pendidikan Indonesia. Seakan-akan dengan menerapkan SBI mutu pendidikan akan terkerek ke arah lebih baik. Embel-embal internasional seakan-akan menjadikan sekolah Indonesia sejajar, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, dengan sekolah-sekolah di belahan negara lain.
Maka sekolah-sekolah berlomba-lomba menerapkan sistem ini dan bagi yang belum mencapai akan mengarahkan seluruh sumber daya-nya ke arah sana. Aspek-aspek manajemen pendidikan seperti misalnya akreditasi, kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pendidik, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan sepertinya mengalami perbaikan mutu sebai implikasi adanya SBI.
Memang pelaksanaan SBI membawa implikasi terhadap aspek manajemen pendidikan/sekolah dan aspek tersebut masih perlu dibenahi. Beberepa aspek tersebut antara lain akreditasi, kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pendidik, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. Setiap aspek dalam manajemen pendidikan tersebut tentu saja memiliki standar mutu yang berbeda untuk menilai keandalannya. Aspek-aspek manajemen pendidikan tersebut memperlihatkan bahwa SBI dapat dijadikan standar, hal ini tampak dari dasar pelaksanaannya.
Dasar pelaksanaan SBI yaitu Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, Pasal 50 ayat (3) Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. PP no 19 tahun 2005 (Pasal 61 ayat 1) Pemerintah bersama-sama pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional.
Sementara itu dalam Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009 dinyatakan bahwa untuk meningkatkan daya saing bangsa, perlu dikembangkan sekolah bertaraf internasional pada tingkat kabupaten/kota melalui kerjasama yang konsisten antara pemerintah dengan pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan, untuk mengembangkan SD, SMP, SMA, dan SMK yang bertaraf internasional.
Sementara itu pelaksanaan SBI tidak serta merta berjalan mulus, terdapat banyak krtitik terhadapnya. M. Fajri Siregar (Kompas, 8 April 2009) menyoroti bahwa pelaksanaan SBI menjadikan kurikulum dan materi pelajaran terkesan tidak terkontrol oleh pemerintah. Selain memakai kurikulum nasional, sekolah-sekolah nasional tersebut juga mengadopsi kurikulum internasional. Bahkan, pengajarnya lebih banyak warga negara asing, termasuk penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Selain itu berupa munculnya dampak panjang sosial budaya dan nasionalisme pada anak-anak Indonesia. Para siswa begitu minim pengetahuan sosial dan budaya Indonesia, nilai-nilai historis dan nasionalisme, serta sikap individualisme yang begitu tinggi. Kurikulum sekolah menyiapkan mereka sebagai warga dunia atau sebagai komunitas internasional, sebaliknya nilai-nilai keIndonesiaan tidak ditanamkan.
Kecaman keras bahkan muncul dari HAR Tilaar (Kompas, 8 April 2009) bahwa sikap pemerintah yang telah berperan besar bagi menjamurnya sekolah-sekolah tersebut. Pemerintah belum memiliki landasan hukum yang jelas bagi penyelenggaraan sekolah nasional plus ini. Menurutnya, itu berarti pemerintah tidak percaya terhadap sistem pendidikannya sendiri, yaitu pendidikan nasional yang bisa bersaing secara global dengan negara lain.
Kebijakan pemerintah justru mendorong bermunculannya sekolah-sekolah negeri bertaraf internasional dan berbiaya besar ini. Seharusnya pemerintah memperkuat sistem pendidikan sendiri, bukan sebaliknya menciptakan sistem pendidikan berkelas-kelas yang akan menciptakan bom sosial kelak di kemudian hari,
Paparan di atas memperlihatkan bahwa masih terdapat sisi-sisi lemah atau masalah-masalah dalam penyelenggaraan SBI dan tentu saja memiliki implikasi terhadap manajemen sekolahnya.

Pusdiklat Teknologi Informasi Pendidikan : Pembuatan Media Pengajaran Berbasis Multimedia, Design Media Pengajaran, Media Pengajaran Berbasis Websites Internet, Media Pendidikan dan Media Pengajaran, Software Aplikasi Pendidikan